KISAH CINTA BARIDIN DAN RATMINAH


Jika di Verona ada cerita percintaan yang terkenal Romeo dan Juliet. Maka Cirebon juga punya cerita percintaan yg hampir sama dengan Cerita Romeo dan Juliet. Yaitu cerita Baridin. Yang bercerita, tentang cinta tulus seorang pemuda terhadap gadis idaman hatinya, namun terhalang oleh orang tua si pujaan hati hanya karena ia tidak memiliki harta dan orang yang tidak berpunya, namun besarnya cinta mereka telah mengalahkan semuanya, rasa cinta yang begitu besar telah membutakan hati dan pikiran, dan akhirnya kematianlah yang menyatukan cinta suci mereka.


***
Alkisah, Jagapura nama sebuah kampung pesisir pantai di Cirebon, tinggallah seorang pemuda bernama Baridin, ia tidak tampan tidak juga buruk rupa, penampilannya biasa-biasa saja, ia bukan pengangguran tetapi tidak memiliki pekerjaan kesehariannya hanya dihabisnya melamun, bermain-main dipesisir menghabiskan waktu. namun dia memiliki kharisma yang membuat setiap gadis dikampungnya menyukai dirinya, karena Baridin pemuda yang pandai dalam memainkan alat musik suling dan kitar.

Seperti biasa setiap sore hari Baridin selalu memainkan alat musiknya di pesisir pantai utara, dia memiliki seorang kawan karib bernama Gemblung, bersama Gemblunglah Baridin menghabiskan hari-harinya, sifatnya yang ramah yang membuat Baridin disegani pemuda-pemuda lain dan disukai gadis-gadis kampungnya, tetapi sayangnya Baridin dibenci oleh para orang tua, para orang tua gadis-gadis itu takut bahkan selalu memperingatkan anak gadisnya untuk tidak terlalu akrab dengan Baridin.

Baridin sendiri telah mengetahui bahwa dirinya tidak disukai para orang tua gadis dikampungnya, tetapi sikapnya yang masa bodo dan selalu ramah terhadap sesama semakin membuatnya jadi idola, sebenarnya diam-diam Baridin telah menyimpan rasa pada seorang gadis di kampungnya, gadis itu bernama Ratminah, Ratminah putri tunggal seorang tulak yang sawahnya berbahu-bahu, Bapa Dam dan Mbok Wangsih itu adalah panggilan orang-orang kampung kepada orang tua Ratminah, Bapa Dam dan Mbok Wangsih memanglah orang yang disegani orang-orang, tetapi bukan karena sifatnya yang baik, mereka disegani karena perangainya yang sombong, berbeda sekali dengan Ratminah putrinya yang ramah dan sangat merakyat.

Bapa Dam bukan sekali dua kali menasehati Baridin untuk tidak mendekati putrinya, namun Baridin tidak bergeming pada pendiriannya, Baridin bukannya tidak punya telinga dan tidak punya otak, hanya saja pendirian Baridin yang tetap ngotot, ia tidak peduli orang tua Ratminah bicara apapun tentangnya, yang dipikirannya hanya Ratminah, dan Ratminah pun ternyata membalas rasa cinta Baridin.

Singkat kisah, Baridin dan Ratminah pun saling memadu kasih, walau tanpa sepengetahuan kedua orang tua Ratminah, Bapa Dam dan Mbok Wangsih. Orang-orang kampung sudah mengetahui hubungan mereka yang sudah kian dekat, orang-orang kampung merestui hubungan keduanya bahkan mereka menutup-nutupi hubungan mereka dari pantauan Bapa Dam dan Mbok Wangsih.

Namun naas kabar kedekatan Baridin dan Ratminah akhirnya sampai juga ketelinga Bapa Dam dan Mbok Wangsih, malang tak dapat disanggah untung tak dapat diraih, saat Baridin dan Ratminah sedang duduk-duduk berdua di pinggiran tambak, Bapa Dam beserta Istrinya Mbok Wangsih tiba-tiba datang dan menghardik, Ratminah bergetar seluruh tubuhnya ia sendiri ditarik paksa oleh Mbok Wangsih, tidak cukup sampai disitu Baridin pun harus menerima kenyatan dihujat habis-habisan oleh Bapa Dam,

“Hei Baridin, kamu itu dungu apa tuli, apa otakmu sudah tidak bisa berpikir lagi, sudah berulangkali aku peringatkan, jangan pernah dekati Ratminah.”

“Kenapa tidak boleh, kami saling menyayangi?” Baridin memotong ucapan Bapa Dam.

“Apa Baridin, coba kamu ulangi sekali lagi ucapanmu, berani benar kamu berbicara begitu, tidak sadarkah kamu sedang berhadapan dengan siapa? Baridin, sekali lagi kuperingatkan, jangan pernah lagi kamu dekati putriku, dasar pengangguran, hidup luntang lantung kayak pengemis, dan kamu ngomong soal sayang padaku tadi, o..o tidak Baridin, kamu hanya akan menyengsarakan anakku saja, dan ingat Baridin !! Ratminah bulan depan akan ku kawinkan dengan Putera Juragan Tulak dari Seberang. Kami orang terpandang di kampung ini, tidak sembarang orang bisa masuk dalam kehidupan kami. Awas sekali lagi kamu nekat mendekati Rahminah, Hekk.” Sambil menggariskan telunjuknya dileher.
Singkat cerita baridin meminta kepada ibunya untuk melamar si ratminah tapi lamaran ibu baridin di tolak mentah mentah pleh org tua ratminah dan ibu baridin di perlakukan dng tidak hormat hanya karna ibu baridin orang miskin.

Baridin hanya bisa tertunduk lesu, hatinya berkecamuk, disatu sisi ia ingin melawan tetapi disisi lain Baridin merasa memang dirinya tidak pantas untuk bisa bersanding dengan Ratminah, hari-hari Baridin kini dihabiskan dengan melamun sepanjang hari, orang-orang hanya bisa mengasihani melihat keadaan Baridin, mereka memaklumi mengapa Baridin menjadi seperti itu tetapi apa daya, orang-orang kampung pun selama ini menggantung hidupnya dari Bapa Dam, mereka menjadi buruh di sawah dan tambak milik Bapa Dam.

“Din, rasa sayangmu pada Ratminah, rupanya sudah mentok sampai ke ubun-ubun, awas Din jangan sampai lepas dari ubun-ubun, kalau lepas bisa-bisa kamu gila.” Gemblung mencoba menghibur Baridin.

“Din, sebagai sahabatmu aku turut prihatin, tapi Din, kamu tidak bisa selamanya seperti ini, Din kalau kamu memang benar-benar cinta dan sayang pada Ratminah, pergilah ke seberang sana, disana ada seorang pertapa yang kesaktiannya tidak diragukan lagi, semoga beliau bisa menolongmu.”

Baridin bangun dari tempat duduknya, “Mblung, malam ini juga aku akan temui pertapa itu, Juragan yang sombong ingat ini aku Baridin, jangan pernah salahkan aku karena anakmulah yang tergila-gila padaku.” Tatapan yang nanar penuh kesumat, lalu Baridin pun pergi.

“Din, tunggu.” Gemblung coba mencegah, namun sia-sia.

Baridin sudah membulatkan tekad dalam hati bahwa dirinya harus bisa mendapatkan Ratminah bagaimanapun caranya, bila dirinya tidak bisa mendapatkan Ratminah, maka orang lain pun tak akan pernah bisa memilikinya.

Setelah berjalan sehari semalam menembus alas yang luas, disiang yang terik dan dimalam yang dingin, akhirnya Baridin sampai disebuah Goa, Baridin belum tahu berapa lama lagi dirinya harus berjalan untuk bertemu Pertapa sakti itu, karena hari sudah mulai malam maka Baridin memutuskan beristirahat di dalam Goa tersebut, ia mengambil air dari mata air yang mengalir di sekitar Goa, disaat Baridin sedang menikmati air untuk melepas dahaga dirinya merasa ada seseorang yang menguntitinya, Baridin pun sontak berkata.

“Siapa gerangan sebenarnya yang menguntit ku, jika kau bangsa manusia keluarlah, jika kau bangsa jin, maka sampaikan maksud kedatanganku kepada pertapa sakti bahwa aku sedang membutuhkan pertolongannya.”

Tiba-tiba Goa bergetar,

“Hei Baridin, berani sekali kamu datang ketempatku, akulah orang yang kamu cari, aku telah tahu apa maksud kedatanganmu, aku bisa membantumu asal kau bisa menjalankan syarat-syaratnya.” Suara itu lalu menghilang. Baridin lalu menundukan badannya, “baik eyang saya akan menuruti segala perintah eyang, asalkan hajat saya dapat terkabul.” Jawab Baridin.

“Dengarkan baik-baik, kamu harus tapa geni di Goa ini selama 40 hari 40 malam, sambil merapalkan mantera pengasihan ini Baridin.” Terdengar kembali suara tanpa sosok di dalam Goa.

Baridin menghening, lalu terdengar …


“Niat ingsun ngemat ceg si ajiku semar mesem grajag grejeg klyue ki semar ireng, aji pengasian kang ora ono tombone ora ono wong bagus jobo aku, ora bisa turu yen durung ketemu aku, yen ketemu turu tange’no yen ketemu tange’ adegno, yen ketemu ngadeg lako’no, urung mlungkung kurun edan lan gendeng yen durung ketemu aku, sido atot katut manuk perkutut si jabang bayine, kun fayakuun saking kersaning gusti allah.”


Baridin mendengar dengan sangat seksama, dan dirinya merasa telah bisa untuk mengamalkannya, “Baik eyang, saya akan penuhi syarat dari eyang.”

“Bagus Baridin, dihari ke empat puluh mu nanti, orang yang kamu tuju akan sangat tergila-gila padamu, jika tidak percaya coba buktikan, di 3 hari pertama kamu amalkan mantera ini, orang yang kamu tuju akan selalu gelisah, dan jika disertai dengan dendam kesumat dalam mengamalkan ajian ini, maka kurang dari 7 hari kamu amalkan mantera ini, orang yang dituju bisa bisa lupa ingatan dan hanya akan menyebut-nyebut namamu.” Suara itu lalu menghilang.

Baridin pun lalu mengambil posisi untuk memulai merapal mantera, sementara itu dikampung orang-orang sibuk hilir mudik mempersiapkan segala macam kebutuhan hajatan, karena seminggu lagi Bapa Dam akan menikahkan Ratminah putrinya.

Orang-orang kampung akhirnya mulai menyadari bahwa Baridin telah tiada diantara mereka, dalam benak mereka saling bertanya satu sama lain, kemanakah Baridin, mereka hanya berpikir mungkin Baridin sedang menenangkan pikiran, dan mencoba untuk mulai membiasakan diri menjauh dari Ratminah, dan sangat tidak mungkin Baridin ada disini untuk bisa melihat kenyataan Ratminah bersanding dengan pemuda lain.

Hari kedua sudah Baridin jalani dan dirinya masih khusyuk merapal mantera dalam tapa geninya, matanya terpejam mulutnya tertutup rapat, hanya hati dan pikirannyalah yang hidup, tertuju pada satu tujuan.

Ratminah,

Dan malam ini orang-orang kampung sedang bersenang-senang, karena Bapa Dam menyewa Sintren 3 hari 3 malam berturut-turut sebelum perayaan perkawinan Ratminah, tetapi Ratminah sendiri menangis tersedu-sedu didalam kamarnya, tangisnya terdengar oleh Mbok Wangsih, Mbok Wangsih pun kebingungan melihat tingkah Ratminah yang menjadi tertutup dan lebih senang berdiam diri, sesekali menangis sendiri, lalu tersenyum-senyum. Keadaan ini membuat Bapa Dam dan Mbok Wangsih resah, dan malam ini adalah malam terakhir Ratminah dalam asuhan Bapa Dam dan esok ia sudah harus dikawinkan berarti Ratminah akan dibawa ke seberang bersama suaminya, akan tetapi keadaan Ratminah semakin kacau, ia masih sesegukan, pelan, sangat pelan suara tangisnya.

Didalam Goa, Baridin semakin Khusyuk merapal mantera, ini adalah malam ke 7 nya, tidak bergeming sedikitpun dari posisi semula, fikiran tetap tertuju pada Ratminah, dan Baridin mulai merasa bahwa Ratminah mulai merasakan efek manteranya, ingin ia sudahi, tetapi kini timbul sifat serakah dihatinya Baridin tidak hanya puas telah membuat Ratminah menggilainya, tetapi juga dendamnya semakin membara dihatinya ia membayangkan Bapa Dam yang menghinanya dan dirinya menginginkan agar Bapa Dam bisa bersembah memohon ampun padanya.

Sudah beberapa orang pintar yang didatangkan oleh Bapa Dam dan Mbok Wangsih demi mengembalikan keadaan Ratminah Putrinya, tetapi setiap orang pintar yang dipanggil hanya bisa menggelengkan kepala, dan memberi jawaban yang sama, hanya orang yang telah mengerjainya yang bisa menyembuhkannya, rencana perkawinan pun gagal.

Bapa Dam dan Mbok Wangsih mulai berpikir tentang Baridin, dirinya sadar Baridinlah yang telah membuat putrinya menderita, Bapa Dam lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mencari dimana Baridin, tetapi 2 minggu sudah mereka mencari namun pulang dengan tangan hampa.

Selama ini Bapa Dam menutup-nutupi keadaan Ratminah yang menderita kelainan jiwa, namun akhirnya orang-orang kampung mengetahui keadaan tersebut, dan gemparlah seluruh kampung mengetahui kabar bahwa Ratminah gila. Bapa Dam tidak dapat menutupi rasa malunya, namun dirinya tidak pernah merendahkan diri dan tetap meyombongkan diri, lama kelamaan seluruh harta Bapa Dam habis untuk membiayai pengobatan Ratminah, dan akhirnya Ratminah dibiarkan liar, kondisi mengharukan, disela bibirnya, terucap “ Kang Baridin.. Kang Baridin.” Orang-orang kampung tidak ada lagi yang mau berhubungan dengan Bapa Dam.

Bapa Dam kini tidak ubahnya sampah dimata orang-orang kampung Juragan Tulak yang sawah berbahu-bahu dan tambak berhektar-hektar kini telah melarat, Mbok Wangsih akhirnya meninggal setelah tidak mampu menerima kenyataan hidup yang pahit, Bapa Dam kini tertunduk ingin rasa dirinya meminta maaf pada Baridin, namun Baridin dirinya tidak tahu dimana.

38 hari sudah Baridin melaksanakan lelakunya, dirinya sudah mulai goyah, 38 hari tanpa makan dan air, hari ke-39 kondisi Baridin semakin lemah, tetapi dirinya masih merapalkan manteranya, dan bertepatan dengan tanggal 15 saat bulan sedang terang Baridin menyelesaikan rapalannya, dirinya tersenyum dan berkata “Ratminah, kematianlah yang akan menyatukan kita.” Karena kondisi fisik yang begitu lemah akhirnya Baridin menghembuskan nafas terakhir sesaat setelah amalan yang ia kerjakan selesai.

Selang beberapa hari setelah itu orang-orang kampung menemukan Ratminah pun meninggal.


Note : 

Makam Ratminah dan Baridin berada di Desa. Jagapura Kab. Cirebon

Makam Baridin sering dijadikan untuk ngalab berkah.

Pelajaran yang bisa diambil :

* Jangan pernah menilai seseorang dari segi materi, materi kadang bisa membuat orang lupa, lupa akan pribadi yang baik yang seseorang miliki.
* Kodratnya cinta itu tidak bisa dipaksakan.
* Jangan pernah tinggi hati

Seseorang yang berniat baik pun akhirnya bisa berbuat nekat, karena pada dasarnya kesabaran manusia itu ada batasnya, dan hanya orang-orang yang selalu berpikiran jernih yang bisa memanfaatkan keterbatasan kesabaran yang dimilikinya.

5 komentar:

Harno Diyansyah mengatakan...

kang pripun ya lamon kisah baridin niki didadikaken cerita kolosal kaya ning tipi-tipi kah?
menarik ceritae kang...kesuwun kula saking dermayu.

RFU12 mengatakan...

Wah iya, kayae sih seru kang.. Bli kalah karo ceritae Siti Nurbaya.. Tp sayange laka sing nglirik...

www.mtsnwidasari.blogspot.com mengatakan...

cerita yg saya tau bukan seperti itu,,,dan bunyi kemat aji jaran goyang ny juga bkan gitu,,itu mah aji semar mesem,,,
by wonk jagapura (tempat makam baridin berada)

andro mengatakan...

Ada perbedaan cerita yg berkembang di masyarakat dgn cerita yg ditulis disini.

1. Baridin, pemuda miskin, jelek, tapi rajin bekerja, kerjanya weluku (membajak sawah).

2. Ratminah, gadis cantik anak Bapak Dam yang kaya raya, tp sombong.

3. Mbok Wangsih bukan ibu Ratminah, tapi Ibu Baridin. Mbok Wangsih sgt miskin. Sedangkan Ratminah tidak punya ibu (meninggal).

4. Kisah cinta mereka bukan karena tidak direstui orang tua, tp memang Ratminah yg menolak mentah-mentah & menghina Baridin & Mbok Wangsih. Jd cinta Baridin bertepuk sebelah tangan.

5. Karena Ratminah menghina Mbok Wangsih yang mermaksud melamarnya, Baridin tidak terima dan kemudian ngemat (memelet) Ratminah dengan ajian jaran guyang.

6. Ilmu pelet Baridin didapat dari sahabatnya (Gemblung), bukan dr pertapa.

7. Ilmu yang dirapal, bukan "semar mesem", tp "jaran guyang", bunyinya jg tidak seperti itu.

Masih banyak lg perbedaan dgn yg ditulis disini.
Saya tdk tahu, penulis mendapat sumber darimana, sehingga ceritanya berubah.
Salam.

Ragil febriawan mengatakan...

ceritanya ngaco... ga gitu ceritanya, mbok wangsih tu ibunya baridin.

Poskan Komentar

Video Gallery

Cari Blog Ini

Memuat...
silahkan melihat